![]() |
| Dewis Akbar |
Garut, sebuah kabupaten di Jawa Barat yang terkenal dengan keindahan alam dan budayanya, kini memiliki alasan lain untuk menjadi sorotan. Seorang pemuda bernama Dewis Akbar telah melakukan perubahan besar dalam dunia pendidikan teknologi di daerah tersebut. Dengan semangat yang tak pernah padam dan visi yang jauh ke depan, Dewis mendirikan laboratorium "Komputer Mini" menggunakan perangkat Raspberry Pi, yang bertujuan memberikan akses pendidikan teknologi kepada anak-anak di daerahnya. Kisah inspiratif ini bukan hanya tentang pencapaian teknologi, tetapi juga tentang dedikasi dan kegigihan dalam menghadapi keterbatasan.
Latar Belakang Dewis Akbar
Dewis Akbar, seorang lulusan Ilmu Komputer dari Institut Pertanian Bogor (IPB), adalah pemuda berusia 34 tahun yang dikenal karena inovasinya di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Meskipun telah menyelesaikan pendidikan sarjananya, Dewis tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang telah diperolehnya. Hasratnya untuk terus belajar dan mengembangkan dirinya mendorongnya untuk berkolaborasi dengan Budi Arifin, seorang teman masa sekolah, dalam membangun sebuah laboratorium yang unik di SDN 10 Regol, Kabupaten Garut.
Laboratorium yang dikenal sebagai "Komputer Mini" ini dirancang dengan menggunakan perangkat Raspberry Pi, sebuah komputer berukuran kecil namun memiliki kemampuan yang sangat besar. Laboratorium ini bukan hanya sekadar tempat belajar komputer, tetapi juga menjadi wadah bagi anak-anak di Garut untuk mengembangkan keterampilan mereka di bidang teknologi. Melalui laboratorium ini, Dewis berharap dapat memberikan kesempatan yang sama bagi anak-anak di daerah terpencil untuk belajar dan berkembang di bidang yang semakin penting ini.
Menyulap Ruang Sederhana Menjadi Laboratorium Teknologi
SDN 10 Regol, tempat laboratorium ini didirikan, awalnya hanya memiliki satu komputer yang digunakan untuk keperluan administrasi sekolah. Keterbatasan ini menjadi tantangan besar bagi Dewis. Namun, dengan semangat yang tinggi, ia memutuskan untuk menyulap ruang guru sederhana menjadi laboratorium komputer yang memadai. Di sini, anak-anak diajarkan tidak hanya dasar-dasar penggunaan komputer, tetapi juga keterampilan pemrograman yang menjadi fondasi penting dalam era digital ini.
Kondisi awal sekolah yang hanya memiliki satu komputer tidak menyurutkan semangat Dewis. Ia memulai dengan mengadakan kegiatan ekstrakurikuler bernama STEAM Club, yang fokus pada Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics. Dalam kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar tentang Microsoft Office, tetapi juga mulai diajarkan pemrograman dasar. Hal ini merupakan langkah awal yang signifikan dalam memperkenalkan dunia teknologi kepada mereka.
Mengatasi Tantangan dengan Kreativitas
Dewis menyadari bahwa mengajarkan pemrograman kepada anak-anak yang tidak memiliki akses ke komputer di rumah merupakan tantangan besar. "Tidak sulit mengajarkan pemrograman kepada anak-anak yang sudah punya komputer di rumah. Tapi, bagi yang tidak punya dan tidak mengenal komputer, ya sulit. Mengetik pakai keyboard saja mereka susah. Butuh beberapa menit hanya untuk mengetik satu kalimat," ungkap Dewis.
Namun, semangat anak-anak di Garut untuk belajar TIK sangat tinggi. Mereka yang sudah mahir komputer dengan senang hati membantu teman-temannya yang masih belajar. Anak-anak yang belum terbiasa dengan komputer pun tidak mudah menyerah. Mereka lebih mudah memahami pelajaran ketika diajarkan oleh teman sebaya daripada oleh guru. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pendidikan, terutama di bidang yang membutuhkan banyak latihan seperti TIK.
Melahirkan Karya Inovatif dari Keterbatasan
Meskipun dengan keterbatasan fasilitas, Dewis berhasil menginspirasi anak-anak untuk menciptakan karya-karya inovatif. Salah satu karya yang patut dibanggakan adalah "Saron Simulator," sebuah alat musik gamelan yang dikendalikan oleh komputer. Karya ini tidak hanya menunjukkan keterampilan teknis anak-anak, tetapi juga bagaimana teknologi dapat diintegrasikan dengan budaya lokal. Melalui proyek ini, anak-anak belajar bagaimana memadukan teknologi modern dengan warisan budaya mereka, sebuah langkah penting dalam menjaga identitas mereka di tengah arus globalisasi.
Keberhasilan anak-anak dalam menciptakan karya inovatif ini membawa mereka menjadi jawara di berbagai ajang lomba inovasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Prestasi ini tidak hanya membanggakan bagi Dewis dan anak-anak binaannya, tetapi juga bagi masyarakat Garut secara keseluruhan. Ini membuktikan bahwa dengan bimbingan yang tepat, anak-anak dari daerah terpencil pun dapat bersaing di kancah internasional.
Gagasan Lab Komputer Keliling: Sebuah Terobosan Radikal
Tidak puas hanya dengan laboratorium tetap, Dewis juga memiliki gagasan untuk menciptakan "Lab Komputer Keliling." Ide ini muncul dari keinginannya untuk menjangkau lebih banyak anak-anak di daerah terpencil yang belum memiliki akses ke pendidikan teknologi. Dengan lab komputer keliling, Dewis berharap dapat membawa pelajaran TIK langsung ke desa-desa yang sulit dijangkau, memberikan kesempatan belajar yang sama kepada semua anak tanpa terkecuali.
Namun, Dewis menyadari bahwa gagasan ini cukup radikal dan membutuhkan perencanaan yang matang. "Rencana ini masih perlu penyempurnaan dalam prosedur dan perhitungan investasi," kata Dewis. Meskipun demikian, ide ini sangat mungkin menjadi terobosan baru dalam dunia pendidikan komputer di Indonesia, terutama bagi para pengajar di daerah-daerah terpencil. Jika berhasil diwujudkan, lab komputer keliling ini dapat menjadi model yang ditiru oleh daerah-daerah lain di seluruh Indonesia.

Mengubah Wajah Pendidikan Teknologi di Garut
Melalui usaha dan dedikasinya, Dewis Akbar telah mengubah wajah pendidikan teknologi di Garut. Dari sebuah sekolah yang hanya memiliki satu komputer untuk administrasi, kini SDN 10 Regol telah menjadi pusat pembelajaran teknologi yang menghasilkan berbagai karya inovatif. Anak-anak yang dulunya tidak mengenal komputer kini sudah mampu membuat program dan aplikasi sederhana, bahkan beberapa di antaranya telah meraih penghargaan di tingkat nasional dan internasional.
Keberhasilan ini bukan hanya milik Dewis, tetapi juga milik seluruh masyarakat Garut. Dengan dukungan dari komunitas, pemerintah, dan berbagai pihak lainnya, Dewis berhasil membuktikan bahwa pendidikan teknologi dapat diakses oleh semua orang, tidak peduli seberapa terpencil daerah mereka.
Penutup
Dewis Akbar adalah contoh nyata bahwa keterbatasan tidak harus menjadi penghalang untuk mencapai hal-hal besar. Dengan visi yang jelas, semangat yang kuat, dan kerja keras, ia telah berhasil membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan teknologi di Garut. Inovasinya tidak hanya memberikan akses pendidikan teknologi kepada anak-anak di daerah terpencil, tetapi juga membuka mata kita bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, di mana pun mereka berada.
Dengan ide sederhana namun inovatif, Dewis berhasil menyabet beberapa penghargaan bergengsi, seperti Indonesia ICT Awards (Inaicta) 2014 dan Merit Award Asia Pacific ICT Alliance (Apicta) Awards 2014. Dewis sendiri juga berhasil menyabet penghargaan SATU Indonesia Award 2016 yang dihelat PT Astra International Tbk. Kisah Dewis adalah bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, dan setiap langkah tersebut dapat membawa kita lebih dekat ke masa depan yang lebih baik.

Comments
Post a Comment